-irdazone-
Kisah perjalanan bagpacker Indonesia mencari penyeimbang arus informasi dan kekakuan teori hingga ke lorong-lorong tak kasat mata di 26 negara.
“…Dalam perjalanan, baru aku saksikan betapa alam telah marah dengan begitu bengisnya. Badai angin menerbangkan benda-benda ke jalan raya. Ada tiang telepon yang roboh. Bus terhalang kabel telepon. Banyak warga keluar membantu membebaskan jalan raya. Ini pengalamanku pertama kali dalam perjalanan bertemu taifun.
Sesampai di penginapan, kudapati genteng-genteng berjatuhan di teras. Lantai kamar kami sudah terisi air sebatas mata kaki. Pegawai hotel sibuk mengepel lantai dan membersihkan pecahan genteng. Aku coba keluar ke teras, melihat pohon kelapa di taman terombang-ambing. Aku berpikir, kalau pohon kelapa itu jatuh, bisa roboh ke kamar kami. Baru kali ini aku mendengarkan suara angin seperti mesin helicopter.”
Cerita di atas merupakan catatan pengalaman Sigit Susanto, pria kelahiran Kendal 45 tahun silam saat berada di Vietnam. Selama di negeri Ho Chi Minh ini ia merasakan layaknya di Indonesia.
Sebisa mungkin dia selalu menulis apa saja yang ia lihat dan temui selama perjalanan. Hingga akhirnya kumpulan catatan perjalanannya tersebut ia bukukan dengan judul Menyusuri Lorong-lorong Dunia.
Sigit yang sudah tinggal 12 tahun lebih di Swiss memang hobi jalan-jalan. Tidak hanya itu, istrinya Claudia Beck yang warga negara Swiss rupanya memiliki hobi yang sama dengan Sigit. Rata-rata setiap perjalanan di satu negara atau kota memakan waktu maksimal 2 minggu. Setahun kadang mereka berdua mengunjungi 3-4 negara.
Kalau dihitung, waktu kerjanya hanya 50% sehingga ia memiliki banyak waktu luang. Sedangkan istrinya mendapat masa libur setahun 4-5 minggu. ”Kami selalu bersama-sama memanfaatkan liburan tersebut,” tulis Sigit menjawab e-mail dari Lintasi.



